Rasa Dinosaurus [Part 1]
Karya : Zingga
Sebenarnya, lembah ini mau dibawa ke mana? Mengapa semakin ditanam bebatuan? Mengapa semakin bertemu monster aneh yang tak pernah ada di permukaan? Adakah kaca? Mau tengok, kini wujud kita seperti apa?
Ternyata kita berwujud dinosaurus yang pernah terlupa dari pikiran manusia, yang diawetkan dengan zat kimia, berdiri di Museum seolah dipedulikan. Nyatanya mereka hanya singgah, kita menjadi sadar di malam hari. Lalu satu hal yang mungkin terjadi, kita tak mengingat apapun esok hari. Begitulah kita ya? Masih ada di pikiran, namun sebenarnya sudah tak dipedulikan.
Atau kita mulai mengakui dengan jalan takdir masing-masing. Aku yang berakhir diselamatkan Profesor lugu tapi gila dengan semua eksperimennya. Percobaan-percobaan zat kimia hingga ia secara ilegal menyebarkannya pada lingkungan, membuat panik lautan manusia, menjadikan museum ini puing-puing. Lantas bersembunyi dengan Profesor, aku merasa tenteram, terikut gila pun tak masalah. Karena sebenarnya, kami hidup dalam rasa bersalah.
"Setelah kamu diselamatkan oleh profesor gila itu, apa kisah kita berakhir begitu saja?" tanyamu.
Jawabannya ... tidak. Kita berharga, meski begitu lambat para kerdil itu berbondong-bondong mencoba membangun kembali Museum. Mengumpulkan dan menyusun kembali kerangka-kerangkamu. Lalu aku dan Profesor, bisa saja ditemukan.
Aku sudah bilang, kami sama-sama dihantui rasa bersalah. Suatu saat Profesor akan berakhir di penjara, dan aku kembali bersamamu di Museum. Tapi bagiku, profesor gila itu sudah seperti lampu neon. Aku tetap menanti kedatangan lampu neon di bawah lampu jalan, di tepi jalan gelap, meski berteman dengan senyap. Maka kubilang sekarang, agar kamu memahami bahwa kesatuan spesies yang sama tidak akan bisa menghalangi bangsa virus untuk mengendap.
Kita semua tidak selesai di sini. Sejatinya, apa yang dimulai, tidak ada yang benar-benar usai. Ada suatu masa, kita akan terpaksa mengungkitnya kembali. Aku tidak bisa menaruh harap pada profesor itu, pun pada dirimu, atau siapapun. Aku hanya bisa bergantung pada diri sendiri. Maka dari itu, ketika terjebak waktu, di sanalah kupeluk diri sendiri. Bagaimanapun, apa yang terkekang, jika sudah hancur, tidak ada siapapun yang benar-benar peduli. Kecuali rasa iba dan bersalah.
Komentar
Posting Komentar