Rasa Dinosaurus [Part 2]
(Cari Part 1, alasan mengapa Dinosaurus dan Profesor terpisah)
Karya : Zingga
Profesor, jika kamu telah keluar dari penjara dan sedang mencari aku, carilah di antara buku-buku dongeng. Jiwaku masuk pada salah satu buku dongeng yang kala itu anak kecil bawa saat mengunjungi Museum. Aku ingin bebas dan tak ingin punah, karena itu aku menjelma ilustrasi yang selalu dinikmati dan tak pernah musnah.
Prof, ini tentang hujan kemarin. Aku menyesal, tidak menunggumu hingga sore. Sebab sore ini sebenarnya aku berhasil menemukanmu. Andai kemarin aku bersabar lebih lama, aku ingin tahu apa jalan ini adalah jalan yang sering kamu lewati? Entah hanya aku yang menyadari, atau kamu berpura-pura tidak melihat. Tapi sungguh aku melihatmu dengan jelas. Tentunya aku masih dalam buku dongeng, aku yakin kamu memang tidak menyadarinya. Atau setelah berbulan-bulan, mungkin kamu telah melupakan.
Prof, Ibu Peri di sini mengatakan sesuatu padaku, "Seseorang bisa meninggalkan, ketika ia mulai mengetahui perubahan dalam diri kita." Apa aku telah berubah, Prof? Memang rasanya aku semakin egois, kelembutanku semakin menipis. Rasa takut itu kini selalu menguasai, pikiranku tak lagi mudah dikendali. Semua emosi dalam alam bawah sadarku, seperti beradu tinju, menyebabkan kacau balau. Aku tak bisa melerai, ini membuatku gila setengah mati. Aku pikir, aku harus berterima kasih pada Ibu Peri yang selalu menyemangati dan memberi motivasi. Apa mungkin aku telah kehilangan jati diri? Dia mengatakan, aku harus berkontemplasi.
Prof, aku ingin damai, tapi aku tak percaya diri. Aku ingin jauh dari ramai, tapi nyatanya aku masih sulit menerima diri sendiri. Bersamamu, aku ingin bahagia dan bebas, tapi semesta rasanya berkata bahwa aku tidaklah pantas. Ketika melihatmu lagi sore itu, rasa rindu kini termakan oleh suatu usut yang membangun keputusan bahwa aku harus pergi berperang. Aku berusaha melawan rindu yang menyerang, memadamkan pusat sayang, mengabaikan sesak yang mengerang, lalu perlahan mematikan semua rakyatnya hingga menyisakan logika yang bertahta.
Maka, Prof, jangan buat usaha aku sia-sia. Aku bersyukur, jika alasan kamu tidak melihatku, adalah karena pura-pura.
Komentar
Posting Komentar